Keluarga Multi Istiadat Indonesia di Australia

Melainkan, kehidupan, bagus selagi pacaran ataupun saat telah berkeluarga tidaklah senantiasa berlangsung mulus tanpa situasi sulit. Perbedaan pandangan ataupun prinsip hidup seringkali menjadi situasi sulit. Apalagi bagi mereka yang mempunyai kultur, suku dan agama yang berbeda. Tapi, perbedaan hal yang demikian tak senantiasa berefek negatif. Dengan cinta dan rasa toleransi dan saling menghargai, semuanya dapat dicari jalan tengahnya.

ABC Indonesia kali ini akan berdialog dengan dua keluarga Indonesia yang kini tinggal di Australia mengenai menyenangi kesedihan kehidupan keluarga mereka, adalah keluarga Hainsworth di Melbourne dan keluarga Situmorang di Adelaide.

Aku pertama yakni keluarga Hainsworth yang tinggal di Melbourne. Berikut penuturan Monalisa Hainsworth terhadap wartawan ABC Indonesia, Sastra Wijaya yang mengawali dengan menerangkan latar belakang keluarga mereka.

Keluarga Hainsworth (Lucas (Lukman), Monalisa, Ellyse dan Myiesha)

Setelah Monalisa Hainsworth, lahir dan besar di Kota Padang. Aku menamatkan kuliah di Bandung kembali ke Padang dan diterima sebagai dosen di Universitas Negeri Padang pada tahun 2006. Setelah absah Padang, dua orang tua aku suku Minangkabau dan kami beragama Islam. Mayoritas orang yang tinggal di Sumatera Barat beragama Islam.

Suami aku, Lucas Hainsworth, atau lebih diketahui dengan panggilan Lukman, lahir di Carlton, Australia. Ayahnya berasal dari West Yorkshire (Inggris) dan pindah ke Australia waktu kecil.

Keluarga ibunya juga berasal dari Inggris melainkan telah lama beralamat di Australia. Lukman pertama kali ke Indonesia pada tahun Agustus 1997 dalam rangka program pertukaran siswa antara Wesley College dan Al AzharJakarta.

Aku belajar di Al Azhar selama empat bulan dan di sanalah pertama kali mengetahui Islam dan mulai beratensi mempelajari Islam lebih dalam.

Tahun 2006, sebelum mengatasi kuliah S1 di Deakin University, Lukman meniru program intensif Bahasa Indonesia yang diadakan kampusnya bekerjasama dengan Universitas Negeri Padang. Lukman dan sebagian mahasiswa Deakin University lainnya menghabiskan waktu enam pekan di Padang, belajar Bahasa Indonesia dan juga kultur dan masyarakatnya.

Banyak kekhawatiran dan ketakutan-ketakutan yang keluarga sampaikan, bagaimana agama Lukman, keluarganya, kehidupan di Australia, profesi aku nanti sesudah menikah dan masih banyak lagi.