Alternatif Penyelesaian Dilema Apartemen

Sejumlah konsumen pembeli unit apartemen K2 Park di Serpong, Banten, menuntut PT Prioritas Land Indonesia (PLI) selaku pengembang mengembalikan uang yang telah dibayar. Ada pula konsumen yang merasa dirugikan minta PT PLI untuk merealisasikan pembangunan apartemen cocok jadwal yang dijanjikan. Jikalau merujuk pada Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB), patut serah terima unit K2 Park dikerjakan pada Desember 2018. Tapi sampai ketika ini, K2 Park belum dibangun.

Merespon tuntutan itu, Presiden Direktur PT PLI Marcellus Chandra mengatakan, pihaknya bermufakat mengatasi pembangunan. Oleh sebab itu, ia menggandeng pemodal China berprofesi sama memaksimalkan proyek yang dirancang 6 menara dan meliputi 7.000 unit hal yang demikian. Skor kerja sama ini sekitar Rp 200 miliar yang cuma cukup untuk membangun fondasi dan ruang bawah tanah (rubanah). Sementara untuk membangun segala rumit apartemen, butuh dana tidak kurang dari Rp 1,8 triliun.

Kecuali kerja sama investasi, PLI juga berikhtiar mencari kekurangan dana konstruksi lewat alternatif pinjaman terhadap pemegang saham sehingga porsi kepemilikan mereka berkurang menjadi cuma 49 persen. Jadi, untuk ketika ini PLI belum dapat mengembalikan uang yang telah dibayar oleh konsumen. Kalaupun uang konsumen dikembalikan, nantinya ada pemotongan cocok yang tercantum dalam PPJB.

“Kami pegang janji melanjutkan dan mengatasi pembangunan. Kami jelaskan terhadap konsumen, belum dapat refund 100 persen. Apabila berkeinginan malahan seharusnya cocok PPJB. Pasti ada pemotongan, dan yang dirugikan konsumen,” jelas Marcellus ketika berjumpa. Mengenai waktu pembangunannya, Marcellus mengatakan akan diawali pada Oktober tahun ini. Pihaknya kini sedang berkonsultasi dengan arsitek dan lainnya untuk membikin desain bangunan.

Alternatif penyelesaian pembangunan Berdasarkan ia, satu-satunya metode untuk meyakinkan konsumen yakni dengan merealisasikan pembangunan. Bila itu diukurnya sebagai bukti janji dan iktikad bagus PT PLI terhadap para konsumen. “Kami berkeinginan ngomong apa malahan mereka enggak dapat terima. Mereka seharusnya diyakinkan. Apabila aku sih yang penting bukti pembangunan saja,” sebut Marcellus.